?

Log in

 
 
12 January 2012 @ 11:44 pm
Pemusik hanya menginginkan uang? Sebuah post tentang hal yang konyol.  
Jadi beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang menelusuri beberapa video moumoon di Youtube, saya membaca sebuah komentar yang terkesan brilian dan aneh di saat yang bersamaan.

Pada dasarnya, sederhana. Beberapa orang memberikan komentar terhadap video ini, mungkin lagunya menarik, membawa damai, ataupun membosankan. Hingga muncullah sebuah kalimat perbandingan.



Kalimat yang digarisbawahi berwarna merah itu terdengar sangat aneh di mata dan pikiran saya.


Kesimpulan yang saya dapatkan dari perang komentar di atas adalah, ada beberapa pemusik yang kualitas lagunya juga liriknya berkurang sejak mereka bertambah populer. Orientasi sang artis berubah menjadi uang, daripada seni. Hmm...

Memang saya bukan fans dari artis yang bersangkutan, tapi sejauh yang saya tahu, tidak sepeti yang dikatakan komentator di atas.

Saya mempunyai analogi singkat mengenai kasus bagaimana sebuah pihak menginginkan uang, entah ini masuk akal atau tidak, tapi saya rasa ada hubungannya.



Kamu tahu Breadtalk?
Jaringan roti populer asal Singapura ini sekarang bisa dijumpai hampir di manapun. Yang mau saya jelaskan adalah, bagaimana mereka menghidangkan produknya, seperti terlihat pada gambar di atas. Sebelumnya, coba pikirkan, apa orientasi mereka? Menghidangkan roti terbaik yang pernah ada dalam sejarah dunia? Memamerkan bakat pembuatan roti? Bisnis = Uang?

Roti dihidangkan di sebuah tempat terbuka, bagi siapa saja yang berminat, silakan mengambil dan bayar di counter depan. Jika seandainya, ada orang yang mengambil roti tersebut, memakannya di tempat, dan langsung pergi keluar, bisa membayangkan apa yang terjadi? Jangankan dimakan, dibawa lari saja pasti terjadi kekacauan.

Apa yang menjadi masalahnya? Belum bayar.
Apa yang dibayar? Roti.
Bayar dengan apa? Uang.
Jadi kesimpulannya, apa orientasinya? Uang.

Bandingkan dengan yang satu ini.

Katakanlah ada sebuah band bernama Butterfly. Pada awalnya mereka hanya sekedar sebuah grup musik biasa, yang suka mengekspresikan dirinya lewat lagu dan sebagainya, hingga mereka sampai di sebuah titik popularitas yang cukup tinggi. Suatu hari, mereka berencana mempromosikan lagu terbarunya dengan mengadakan acara live di jalanan. Mereka menemukan tempat untuk mulai menampilkan lagu terbarunya, dan mereka bernyanyi. Beberapa orang yang tertarik, berhenti sejenak untuk mendengarkan, ada juga yang cuma berlalu-lalang.

Setelah selesai, Butterfly menawarkan CD berisi lagu tersebut, dengan harga yang tidak terlalu mahal, katakanlah 10 ribu rupiah saja. Beberapa orang yang tertarik mengambil urang di dompetnya, dan menukarkan uangnya dengan CD tersebut, dan ada juga yang tidak begitu tertarik sehingga mereka pergi begitu saja.

Yang menjadi pertanyaan,
Apakah Butterfly mengejar orang-orang yang mendengarkan tadi tapi tidak membeli CD-nya?
Apakah mereka memaksa penonton untuk membayar dan membeli CD?
Jika jawaban kamu tidak, menurut kamu, apakah orientasi dari Butterfly?

Saya tidak akan membahas analogi tersebut lebih lanjut. Sebagai pembaca, cobalah pahami cerita tersebut dan bandingkan. Semoga analogi sederhana tersebut bisa memperjelas orientasi dari sebuah pihak saat membuat sebuah karya, apapun bentuknya.

Sebuah contoh lain sebagai bonus.
Jika datang ke sebuah tempat ibadah, contohnya Gereja. Jika kita tidak memberikan persembahan, kita tidak akan dikejar jika kita tidak memberikan bukan?


Ngomong-ngomong, saya tidak sedang mempromosikan Breadtalk, ataupun membuat komentar negatif, kalimat yang sudah disebutkan diatas hanyalah digunakan sebagai contoh saja, tanpa bermaksud menyinggung apapun.
 
 
Now Playing: アンジェラ・アキ - 輝く人 | Powered by Last.fm
 
 
 
Hatta Matsudahtmsd on January 12th, 2012 08:38 pm (UTC)
*kopet, gue kebangun*

Tapi intinya sih bener apa yang diomongin, not all musician gave their soul for money. But don't you think that musician is human, and they also NEED MONEY TO LIVE? :/

You have to blame that stupid label / management TBH.

Mereka memaksa si artis yang awalnya berorientasi seni untuk mengikuti perkembangan jaman, karena mereka (si label) juga butuh duit. Karena sumber keuangan mereka memaksa mereka berbuat begitu, jadinya ya mereka ikutan bikin musik sejenis yang lagi tenar agar laku dan mungkin agar gak didepak :|